SELAMAT DATANG DI GALAKSIKU

Kamis, 27 Agustus 2015

Mizzle & Cirrus : Pada Malam yang Terlampau Pagi

Kita adalah sebuah potongan dari kehidupan orang lain.
Lalu dengan cara apa aku menemukan potongan hidupku?

Sementara dirimu telah sibuk dengan mozaik yang kau susun.
Aku masih harus mencari potongan yang hilang.

Ketika kau terlelap menutup malam.
Kakiku masih gontai berjalan mencari tempat pulang.

Gelap, Cirrus. Malam telah datang.
Ia yang terlalu dini hadir?
Atau aku yang terlambat pulang?

Cirrus, bukan untuk kembali terseok pada kata 'dulu'
Aku hanya hilang arah.
Dan radarku mencarimu.

-Mizzle-

Senin, 06 Juli 2015

Pesan Untuk Semua

Kepada seluruh netizen yang mengenalku baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Lewat jejaring sosial atau yang menghubungkanku dengan banyak orang hanya lewat tulisan, 
saya sampaikan hal ini.

Saya berharap kalian semua membacanya.

Ini sebuah permintaan.

Jika ada janji yang belum tertunaikan.
Mungkin karena kesempatan yang belum ada, atau kesehatan yang berkurang, atau materi yang belum cukup, atau mungkin karena memori yang semakin melemah.

Dan kini saat saya merasa cukup terhadap semuanya, saya mempersilahkan kepada teman-teman semua untuk 'menagih' saya menunaikan janji yang pernah saya 'ikrarkan' kepada teman-teman.
Entah itu janjian makan bareng, janjian traktiran, janjian ketemuan, janjian materi, janjian waktu, janjian kesempatan, atau janjian apa pun yang pernah saya buat kepada teman-teman, 
sampaikanlah, tagihlah saya.

Silahkan sampaikan 'tagihan'nya via SMS, WA, email, PM via facebook, twitter, atau kaskus.
Saya tidak akan marah. Tidak akan.
Justru, saya akan sangat berterima kasih karena telah diberi kesempatan untuk menunaikan janji saya, melunasi hutang saya.

Mengingat bahwa internet merupakan singkatan dari interconnected networking, yang berarti semua yang terposting via internet akan saling berhubungan melalui jaringan yang luas. Ini memudahkan saya untuk menyebar informasi 'permintaan' ini yang akan diketahui dengan cepat oleh publik. Namun karena ini masalah privasi. Ada baiknya kita hanya membahasnya juga secara privasi.
Sebab, seseorang sekaliber Imam Syafi`i pun menyampaikan 'kritik' pada sahabatnya di 'saat tak ada orang yang melihatnya'

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca pesan ini. 
Semoga saya bisa menuanikan hal yang sudah saya niatkan ini.
Kalau pun takdir memisahkan kita di ruang dan waktu yang berbeda sebelum sempat saya tunaikan semua kewajiban 'pelunasan' ini,  
saya mohon maaf. 
Hal itu benar-benar di luar kuasa saya.

Sabtu, 28 Maret 2015

Aku selalu khawatir saat nanti, usiaku makin menua dan aku masih sendiri.
Sebab, aku tak memiliki seseorang untuk disebut namanya dalam doa.
Juga seakan terasing dari getaran-getaran hati yang meletup-letup.
Dan akhirnya memaksaku sedikit lebih terbuka pada hal-hal 'aneh' di luar diriku.

Aku selalu khawatir saat nanti, aku benar-benar akan pulang sendiri.
Sebab, aku bukan sosialis
Bukan pula sesorang yang memiliki hubungan berkualitas dengan banyak orang.
Dan ternyata membuatku berpikir beberapa cara agar bisa dikenal banyak orang.

Pasukan Bintang, aku sudah merasakan kesendirian yang lama.
Saat butuh bahu tuk bersandar tapi tak ada.
Saat butuh telinga tuk berkeluh tapi nihil

Bisakah di akhir hidupku, aku tidak sendiri lagi?

Selasa, 03 Maret 2015

One Step Closer Part I


Saat SD ingin sekali menjadi guru. Dan jadilah beberapa guru yang mengetahui keinginanku itu selalu memintaku untuk menyalin materi pelajaran di papan tulis, yang saat itu masih menggunakan kapur, katanya sebagai latihan agar kelak tulisanku rapi dan lurus.




Saat SMP, kebiasaan membacaku setara dengan kebiasaan berimajinasi. Ketika membaca novel yang endingnya tak memuaskan, 'memaksa'ku membuat alur cerita sendiri dengan menuliskannya pada sebuah buku bekas yang lembaran kosongnya tak terpakai. Itu melatihku menjadi penulis.


Saat SMA, aku menyukai seorang graphic designer. Karenaa sukanya, aku selalu meperhatikan detail desain yang dibuatnya. Belajar otodidak. Berimajinasi bisa membuat komik dengan alur ceritaku sendiri. Lalu memutuskan masuk eskul yang bisa nerbitin buletin.


Saat kuliah, banyak tempat kudatangi, juga lebih banyak orang yang kutemui yang akhirnya membuatku memiliki banyak keinginan lain.


Menjadi arsitektur, mungkin memperluas keinginanku dari sekedar desain digital menjadi desain bangunan. Aku menyukai stalking di akun-akun arsitektur. Meskipun tidak mengenal arsitektur terkenal, tapi Om Google selalu setia memuaskan kedua mataku dengan mahakarya yang detailnya membuatku kagum.


Menjadi fashion designer, juga sebagai akibat dari kecintaanku akan keindahan. Sampai-sampai ingin sekali membuat butik sendiri. Ingin sekali me-recycle hal-hal yang terbuang menjadi berguna. Sebab aku tahu rasanya terbuaang dan tak berguna.


Ingin punya sayap. Ada hal-hal yang rumit selalu tiba-tiba aku pikirkan. Jika saja aku bisa terbang atau menghilang seketika. Aku tidak begitu menyukai berjalan sendiri atau pun berdua ataupun bertiga ataupun segerombolan yang di kanan kiri jalan berjejer banyak orang. Yaah, meskipun aku yakin mereka tidak sedang memperhatikanku, tapi tetap saja kikuk itu menjadi hal yang tidak terpisahkan dariku


Ingin punya sekolah alam. Keinginan ini pun tak jarang disebut rumit oleh orang-orang. Kau punya apa untuk buat sekolah? Entahlah. Sekolah yang ada dalam gambaranku memang amat sangat butuh dana besar. Tapi, that`s my big dream. Aku ingin menlihat sekolah impianku ini sebelum 'pulang'.

 
Nggak pengen jadi PeeNeS. Di saat orang-orang ngejar-ngejar jadi PNS, aku mah keep calm bin dagdigdug. Niat kemarin daftar PNS pun agar bisa berpenghasilan melimpah buat ditabung bikin sekolah. Tapi, doaku tetap meminta jalan terbaik, karena keraguan masih menyelimuti. Di samping harus meninggalkan keluarga yang sepertinya dan mungkin seharusnya aku berada di dekat mereka juga karena bayangan hingga usia 60 tahun dengan kerja yang itu-itu saja. Satu lagi yang tidak bisa pisah dariku, bosan.


Pernah juga berpikir ingin jadi dokter. Pertama karena lima hari empat malam berada di UGD. Kedua karena saya tak pernah lepas dari yang namanya sakit. Ketiga karena K-Drama Emergency Couple. Jugaa karena mengucapkan bahasa sulit ala kedokteran itu kedengaran keren. Tapi, aku tidak tegaan, dan penakut. Jadi, abaikan.

Sangat ingin punya rumah di pedesaan. Dikelilingi sawah dan kebun. Ada sungai dan jejeran bukit kecil. Anak-anak bermain hujan dan tanah. Pagi hari belajar berkuda. Sore hari belajar memanah. Malam hari berbaring menatap langit bebas polusi.


Juga ingin menjadi ahli teknologi. Setidaknya saat orang-orang berbicara tentang software, hardware, security system, hack, atau apalah namanya saya bisa ikut nimbrung. Bisa milih-milih barang yang tidak abal-abal

Ingin punya perusahaan sekelas unilever. Jadinya made in Indonesia. Dari dan untuk Indonesia. Kan keren, kalo yang berjejer di toko-toko, swalayan, jugaa pasar tradisional itu yang banyak laku justru produk dari kita?

 karena sudah sangat larut untukku
[bersambung]





Sabtu, 22 November 2014

Sebuah Cinta yang Melebihi Cinta Kami



Aku masih merasakan keberadaan dirimu.
Tapi, saat kesadaran membangunkanku. Kau memang sudah tak disini.

Senin, 10 Muharram
Masih lekat dalam ingatan saat dirimu membagi berlembar-lembar rupiah untuk kami. Saat kutanya untuk apa, “Membeli pulsa” katamu. Meski diam, kau sepertinya tahu handphoneku tak pernah awet berteman pulsa. Aku bahkan tak sempat menyalami tanganmu senja itu. Saat niat mudik kau lakukan dengan angkutan umum, bukan dengan sepeda motor seperti lalu-lalu kebiasaanmu.

Selasa, 11 Muharram
Kami tiba dua jam lebih cepat. Menunggu di koridor UGD RS. Wahidin Sudirohusodo. Berharap, berdoa. Semoga semuanya baik-baik saja. Pukul 00.00 sirine memekakan telinga, silih berganti datang dan pergi. Itu bukan dirimu. Yang datang justru sebuah mobil biasa, tanpa tulisan. Aku tak berani mendekat. Kau pasti tahu, akhir-akhir ini diriku terlalu melankolis. Dengan tubuhmu terbaring lemah, nafas yang berat, juga sebuah infus yang tergantung, melihatnya menyekat kerongkonganku. Sudah. Sedetik saja, aku bahkan tidak bisa menyertaimu masuk UGD, tungkai kaki ini tak kuat menopang tubuhku, rasanya seluruh organ tubuhku bergetar. Aku hanya masuk untuk mengantarkan beberapa kerabat melihat keadaanmu, aku tak bisa kuat bertahan lama melihat kondisimu seperti itu.

Rabu, 12 Muharram
Lebih dari dua puluh tiga tahun, kau membersamaiku. Di waktu yang sangat lama itu, aku mengetahui bahwa kau lelaki yang kuat. Lalu, rasanya tak percaya saat melihatmu terbaring lemah dengan bantuan oksigen, infus, dan beberapa selang lainnya yang entah membuatmu nyaman atau tidak. Nafas yang begitu berat, terlihat jelas dari perut dan dadamu yang terlampau tinggi naik turun. Ranjang pun ikut bergerak saat nafasmu naik turun. Saat kucoba beberapa menit melakukan hal yang sama denganmu, aku tak mampu. Sementara dirimu, sejak tiba di tempat ini hingga malam ini setidaknya sudah 48 jam kau merasakan itu. Kurasa itulah sebenar-benarnya sabar.

Kamis, 13 Muharram
Beberapa luka di kepala, suhu tubuh yang tinggi, leher terkilir, bahu cedera, beberapa ruas tulang belakang bergeser, nafas berat naik turun, kedua telapak tangan tak sanggup menggenggam, dada hingga ujung kaki mati rasa, kesemua itu tidak menjadi penghalang untuk menggugurkan kewajibanmu. Dengan gerakan seadanya, kau tayammum dan melaksanakan shalat lima waktu. Dua kali operasi di sekitar tulang rusukmu, membuatku makin tidak sanggup. Untuk menyelesaikan satu ayat saja, saat tilawah di dekatmu aku tak mampu. Aku yang melihatnya saja begitu berat. Bagaimana kau yang menjalaninya? Kurasa itulah sebenar-benarnya sabar.
Malam sedang ditemani purnamanya rembulan. Aku yang terbiasa tidur pukul 21.00 tak lagi memperdulikan malam-malam larut dengan mata terjaga. Sekedar membasuh tubuhmu dengan air yang suhunya kian lama kian meninggi, tilawah di dekat telingamu agar memberi rasa tenang di hatimu, mengambilkan seteguk air minum pelepas dehidrasimu, bolak-balik mengambil obat atau memanggil dokter. Kesemua hal sederhana itu pastilah tak sebanding dengan penjagaanmu. Lelaki yang siap kapan saja untuk mengantar atau menjemputku. Entah di saat malam yang terlalu larut sepulang mengajar bimbel atau rapat organisasi, pun di saat kendaraan terlalu pagi untuk berlalu lalang hanya untuk mengantarku di beberapa ujian, kuliah, maupun praktikum. Lelaki yang di dalam tasnya dipenuhi berlembar-lembar iklan lowongan kerja. Kau mengkhawatirkanku dengan diammu, dengan sabarmu, dengan caramu.

Jum`at, 14 Muharram
Para dokter sibuk dengan alat-alat dan istilah-istilah medisnya. Pukul 04.30, kau sudah tak mampu merespon. Matamu tertutup, nafasmu masih berat, suhu tubuh 41 derajat, tekanan darah 170/90. Sebuah alat pendeteksi detak jantung telah terpasang, mama dipanggil untuk berdiskusi dengan dokter. Semua sibuk. Aku tetap disampingmu, menghabiskan matsurahku di dekat telingamu. Suaraku timbul tenggelam, bersama tetes-tetes air mata yang berlomba keluar dari kantungnya. Beberapa kali alat pendeteksi jantung itu bersuara seperti sirine, memberikan tanda bahwa keadaanmu kian memburuk. Beberapa kristal bening keluar dari pelupuk matamu, aku menyekanya. Bacaanku kini beralih mentalqinmu. Semua kerabat telah datang menemani. Aku bergantian dengan dua adikku mentalqinmu. Kami, masih bertahan, masih ingin berharap, setelah semua air mata yang mengelilingimu, kuharap esok kita akan pulang dengan bendera kemenangan, sebuah senyum. Yah, kita telah melalui semua ini. Bukankah kau selalu mengatakan  bahwa ‘Sengguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesudah kesulitan ada kemudahan.’
               Ranjangmu didorong cepat ke sebuah ruangan, katanya akan dipasangkan sebuah alat agar nafasmu bisa tertolong. Aku tak bisa berada di ruangan itu. Aku melepasmu. Jum`at, 14 Muharram pukul 11.20, medis RS Wahidin telah mencatatnya, kau telah pulang, benar-benar pulang, dengan sebuah sunggingan senyum. Tangis yang sudah kutahan bermalam-malam akhirnya pecah. Tersungkur duduk di depan ruangan. Lagi, aku belum berani masuk ke ruangan itu melihatmu. Rasanya baru kemarin, kau mengantarku ikut ujian CPNS berharap agar aku bisa menggantikanmu mencari nafkah. Kini kau dipanggil mendahului kami semua yang berdiri mengelilingimu.
               Kupandangi satu-satu dari mereka, kulihat mama tersungkur jatuh di lantai diikuti adikku yang paling kecil di dekatnya, adikku yang kedua di dekatmu, aku ikut berdiri di dekatmu, mencium keningmu sambil menahan isakku. Aku kini seorang yatim. Allahum magfirlahu warhamhu wa`afihi wa`fu anhu. Semoga engkau di tempatkan di antara orang-orang yang beriman.

Malam ini, 29 Muharram pukul 22.00.
Tahukah kau, di sekolah tadi dua orang siswa kuhukum berdiri di depan kelas karena kelakukannya melempar coppeng dari luar jendela kepada siswa di dalam kelas, kelas yang sedang kuajar. Aku tidak tahu bagaimana menasehati mereka, setiap kuberikan pengarahan mereka membalas dengan seribu kata-kata. Akhirnya ledak amarahku, mataku berkaca-kaca. Bukan, bukan karena marah. Tapi, lebih karena rindu. Jika saja kau masih ada di sekolah itu, aku bisa menceritakan ini, berdiskusi menemukan solusi, atau sekedar mendengarkanku. Tapi, aku sendiri.
Sudahlah, cinta Allah jauh lebih baik untukmu. Cinta kami hanya sampai pada doa yang terkirim pada-Nya. Tapi, cinta-Nya mencakup penjagaan untukmu dunia akhirat. Meskipun terkadang saat rindu bertalu-talu, lalu kau jumpai kami menitikkan air mata. Maka sampaikan pada Sang Pemilik Nyawa ini, semoga kita bisa berkumpul dengan orang-orang yang selalu mencintai-Nya. Kami mengikhlaskanmu