SELAMAT DATANG DI GALAKSIKU
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhasabah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Maret 2016

Rumah Baca dan Sebuah Misi Rahasia

Gaung-gaung peduli Indonesia mulai terdengar idealismenya saat berada di bangku kuliah
Teman, organisasi, materi kuliah, relasi dosen, kajian, dan sederet pengaruh lainnya cukup membentuk pola pikir baru.

Semangat yang dulunya datang dari diri sendiri kini hadir pula dari orang lain.

Sejak merasakan pengaruhnya kurang ilmu yang didasari oleh ceteknya bahan bacaan membuat diri ini semakin sadar dan menyesal, 20 tahun belakangan telah melakukan apa?
Di tengah diskusi yang berapi, pertukaran referensi, membagi pengalaman, lalu di mana diriku selama ini?
Sudah membaca apa, mengerjakan apa?

Maafkan wahai waktu.

Lalu, di semester awal kutulis baik-baik

INGIN PUNYA RUMAH BACA

Namun, belum ada perwujudannya.
Langkah kecilku hanya dimulai dengan mengoleksi banyak buku.

Setelah selesai dari urusan kampus: skripsi, ujian, dan wisuda... 
Barulah mimpi itu bangun kembali dengan sendirinya. beberapa status di facebook, berita tersebar bagai angin bergerak ke mana saja, entah fakta atau sekedar hoax, tapi miris, kasihan.

Lalu, saat itu saya mulai banyak mempelajari kepustakaan.
Berhubung pribadi saya sangat suka keteraturan (administrasi dan tata letak) maka jelaslah semua harus didasari dengan ilmu.
Sebab dulu, saat SMA atau mungkin sejak SMP, buku-buku koleksi yang saya miliki diberi label. Mulai dari nama ;
Nia Punya
Nia's Collection
Zahia's Collection
Rumah Baca Iqro
dll
Hampir sepuluh kali revisi.

Bayangkan!!! 
Dari bangku sekolah itu, saya beri label lalu membungkusnya dengan plastik, hekter.
Ganti nama.
Bongkar
Ganti nama
Ganti plastik, plastik yang dulu terlalu kaku.
Hekter
Bongkar
Ganti plastik yang agak melengket dengan sampul
Hekter
Bongkar
Hekter memberikan bekas karat di buku yang sudah terlalu lama
Ganti nama
Ganti plastik
Isolasi
.
.
.
dst

Samapai penghujungnya sekitar dua tahun kemarin, saya memutuskan, mengganti semuanya...
Ganti plastik yang agak kaku
Tidak di hekter (yang membuat karat)
Tidak di isolasi (yang merusak cover buku jika dilepas)
Saya hanya menekan lipatan plastiknya.
Ganti nama dan desain label dengan format administrasi yang kekinian
Buat stempel

dan dieksekusi ke KAFE BACA

Saat hari ini kupikirkan bagaimana supaya kafe ini kembali ramai pengunjung agar omzet bertambah. Tapi, tiba-tiba tamparan keras menyadarkanku.
Niat awal (pribadiku) untuk membuat kafe ini agar minat baca semakin meningkat.
Membaca bukan hanya tentang dunia (menjadi pintar dan mudah bergaul) tapi tentang perintah Allah di awal wahyu itu turun pada teladan kita.

Dan saya sadar betul, tidak membaca membuat kita jauh tertinggal dari apa pun.
Dari dunia dan seisinya.
Dari akademik
Dari pergaulan
Dari Tuhan -yang dengan 'membaca' kita mengenal-Nya lewat diri kita.

bersambung

*tulisan yang terlalu serius bagiku

Sabtu, 22 November 2014

Sebuah Cinta yang Melebihi Cinta Kami



Aku masih merasakan keberadaan dirimu.
Tapi, saat kesadaran membangunkanku. Kau memang sudah tak disini.

Senin, 10 Muharram
Masih lekat dalam ingatan saat dirimu membagi berlembar-lembar rupiah untuk kami. Saat kutanya untuk apa, “Membeli pulsa” katamu. Meski diam, kau sepertinya tahu handphoneku tak pernah awet berteman pulsa. Aku bahkan tak sempat menyalami tanganmu senja itu. Saat niat mudik kau lakukan dengan angkutan umum, bukan dengan sepeda motor seperti lalu-lalu kebiasaanmu.

Selasa, 11 Muharram
Kami tiba dua jam lebih cepat. Menunggu di koridor UGD RS. Wahidin Sudirohusodo. Berharap, berdoa. Semoga semuanya baik-baik saja. Pukul 00.00 sirine memekakan telinga, silih berganti datang dan pergi. Itu bukan dirimu. Yang datang justru sebuah mobil biasa, tanpa tulisan. Aku tak berani mendekat. Kau pasti tahu, akhir-akhir ini diriku terlalu melankolis. Dengan tubuhmu terbaring lemah, nafas yang berat, juga sebuah infus yang tergantung, melihatnya menyekat kerongkonganku. Sudah. Sedetik saja, aku bahkan tidak bisa menyertaimu masuk UGD, tungkai kaki ini tak kuat menopang tubuhku, rasanya seluruh organ tubuhku bergetar. Aku hanya masuk untuk mengantarkan beberapa kerabat melihat keadaanmu, aku tak bisa kuat bertahan lama melihat kondisimu seperti itu.

Rabu, 12 Muharram
Lebih dari dua puluh tiga tahun, kau membersamaiku. Di waktu yang sangat lama itu, aku mengetahui bahwa kau lelaki yang kuat. Lalu, rasanya tak percaya saat melihatmu terbaring lemah dengan bantuan oksigen, infus, dan beberapa selang lainnya yang entah membuatmu nyaman atau tidak. Nafas yang begitu berat, terlihat jelas dari perut dan dadamu yang terlampau tinggi naik turun. Ranjang pun ikut bergerak saat nafasmu naik turun. Saat kucoba beberapa menit melakukan hal yang sama denganmu, aku tak mampu. Sementara dirimu, sejak tiba di tempat ini hingga malam ini setidaknya sudah 48 jam kau merasakan itu. Kurasa itulah sebenar-benarnya sabar.

Kamis, 13 Muharram
Beberapa luka di kepala, suhu tubuh yang tinggi, leher terkilir, bahu cedera, beberapa ruas tulang belakang bergeser, nafas berat naik turun, kedua telapak tangan tak sanggup menggenggam, dada hingga ujung kaki mati rasa, kesemua itu tidak menjadi penghalang untuk menggugurkan kewajibanmu. Dengan gerakan seadanya, kau tayammum dan melaksanakan shalat lima waktu. Dua kali operasi di sekitar tulang rusukmu, membuatku makin tidak sanggup. Untuk menyelesaikan satu ayat saja, saat tilawah di dekatmu aku tak mampu. Aku yang melihatnya saja begitu berat. Bagaimana kau yang menjalaninya? Kurasa itulah sebenar-benarnya sabar.
Malam sedang ditemani purnamanya rembulan. Aku yang terbiasa tidur pukul 21.00 tak lagi memperdulikan malam-malam larut dengan mata terjaga. Sekedar membasuh tubuhmu dengan air yang suhunya kian lama kian meninggi, tilawah di dekat telingamu agar memberi rasa tenang di hatimu, mengambilkan seteguk air minum pelepas dehidrasimu, bolak-balik mengambil obat atau memanggil dokter. Kesemua hal sederhana itu pastilah tak sebanding dengan penjagaanmu. Lelaki yang siap kapan saja untuk mengantar atau menjemputku. Entah di saat malam yang terlalu larut sepulang mengajar bimbel atau rapat organisasi, pun di saat kendaraan terlalu pagi untuk berlalu lalang hanya untuk mengantarku di beberapa ujian, kuliah, maupun praktikum. Lelaki yang di dalam tasnya dipenuhi berlembar-lembar iklan lowongan kerja. Kau mengkhawatirkanku dengan diammu, dengan sabarmu, dengan caramu.

Jum`at, 14 Muharram
Para dokter sibuk dengan alat-alat dan istilah-istilah medisnya. Pukul 04.30, kau sudah tak mampu merespon. Matamu tertutup, nafasmu masih berat, suhu tubuh 41 derajat, tekanan darah 170/90. Sebuah alat pendeteksi detak jantung telah terpasang, mama dipanggil untuk berdiskusi dengan dokter. Semua sibuk. Aku tetap disampingmu, menghabiskan matsurahku di dekat telingamu. Suaraku timbul tenggelam, bersama tetes-tetes air mata yang berlomba keluar dari kantungnya. Beberapa kali alat pendeteksi jantung itu bersuara seperti sirine, memberikan tanda bahwa keadaanmu kian memburuk. Beberapa kristal bening keluar dari pelupuk matamu, aku menyekanya. Bacaanku kini beralih mentalqinmu. Semua kerabat telah datang menemani. Aku bergantian dengan dua adikku mentalqinmu. Kami, masih bertahan, masih ingin berharap, setelah semua air mata yang mengelilingimu, kuharap esok kita akan pulang dengan bendera kemenangan, sebuah senyum. Yah, kita telah melalui semua ini. Bukankah kau selalu mengatakan  bahwa ‘Sengguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan. Sesudah kesulitan ada kemudahan.’
               Ranjangmu didorong cepat ke sebuah ruangan, katanya akan dipasangkan sebuah alat agar nafasmu bisa tertolong. Aku tak bisa berada di ruangan itu. Aku melepasmu. Jum`at, 14 Muharram pukul 11.20, medis RS Wahidin telah mencatatnya, kau telah pulang, benar-benar pulang, dengan sebuah sunggingan senyum. Tangis yang sudah kutahan bermalam-malam akhirnya pecah. Tersungkur duduk di depan ruangan. Lagi, aku belum berani masuk ke ruangan itu melihatmu. Rasanya baru kemarin, kau mengantarku ikut ujian CPNS berharap agar aku bisa menggantikanmu mencari nafkah. Kini kau dipanggil mendahului kami semua yang berdiri mengelilingimu.
               Kupandangi satu-satu dari mereka, kulihat mama tersungkur jatuh di lantai diikuti adikku yang paling kecil di dekatnya, adikku yang kedua di dekatmu, aku ikut berdiri di dekatmu, mencium keningmu sambil menahan isakku. Aku kini seorang yatim. Allahum magfirlahu warhamhu wa`afihi wa`fu anhu. Semoga engkau di tempatkan di antara orang-orang yang beriman.

Malam ini, 29 Muharram pukul 22.00.
Tahukah kau, di sekolah tadi dua orang siswa kuhukum berdiri di depan kelas karena kelakukannya melempar coppeng dari luar jendela kepada siswa di dalam kelas, kelas yang sedang kuajar. Aku tidak tahu bagaimana menasehati mereka, setiap kuberikan pengarahan mereka membalas dengan seribu kata-kata. Akhirnya ledak amarahku, mataku berkaca-kaca. Bukan, bukan karena marah. Tapi, lebih karena rindu. Jika saja kau masih ada di sekolah itu, aku bisa menceritakan ini, berdiskusi menemukan solusi, atau sekedar mendengarkanku. Tapi, aku sendiri.
Sudahlah, cinta Allah jauh lebih baik untukmu. Cinta kami hanya sampai pada doa yang terkirim pada-Nya. Tapi, cinta-Nya mencakup penjagaan untukmu dunia akhirat. Meskipun terkadang saat rindu bertalu-talu, lalu kau jumpai kami menitikkan air mata. Maka sampaikan pada Sang Pemilik Nyawa ini, semoga kita bisa berkumpul dengan orang-orang yang selalu mencintai-Nya. Kami mengikhlaskanmu



Senin, 10 Maret 2014

Dua Puluh Tiga

10 Maret 1991
dua puluh tiga tahun yang lalu, di sebuah rumah sakit Makassar
tangisan bayi perempuan dengan lumuran darah di tubuhnya
menciptakan simpul senyum pada orang-orang yang melihatnya



10 Maret 2013

Cinta
Aku ingin berbicara cinta, saat waktu berjalan menuju dua puluh tiga
Beberapa hari setelah dua puluh dua. Hatiku, telingaku kurelakan menerima, mendengar seseorang mengatakan rasa sayangnya padaku. Padahal sebelum-sebelumnya, aku akan menjauh, berpura-pura tak paham, memilih tidak menerima surat, pesan, telepon dari 'mereka'. Setelah saat itu, aku menyesal mendengar ucapanmu, Sam Dong. Mengapa memberi kesempatan pada lelaki 'asing' untuk mengintip ruang hatiku. Aku kalut. Aku jatuh. Rabb, tolong hamba-Mu.

Sahabat
Cinta yang sama yang mempertemukan kami. Aku, Jan Di, dan So Eun punya alasan yang sama. Kami menyembunyikan sebuah rasa. Lalu akhirnya, kami saling menguatkan, saling mendukung, saling berbagi. Kami saling mengingatkan agar tak keluar pada 'jalur cinta' yang ditetapkan-Nya

Merelakan
Saat kau berani 'menerima' sebuah keputusan, maka kau pun harus berani merelakan. Ini bukan jalanku. Bukan. Tujuh tahun, pencarianku. Aku tak akan rela menggadainya. Cukuplah Allah bagiku. Aku melepasmu. Aku akan mendoakan kebahagiaan untukmu. Hye Mi dan Sam Dong memang tak pernah berujung pada apa-apa kan. Ikatannya hanya sahabat. Seperti itulah sampai akhir.

Berjuang
Melepas segala lika-liku hati, aku bertemu skripsi. Bagian terpenting dalam episode kehidupanku sebagai mahasiswa. Gelar S,Pd yang kusandang saat ini, bukanlah perjuangan kacang-kacangan. Karena, sejak kuputuskan untuk mengakhiri status mahasiswaku secepat mungkin, mulai saat itulah sebenarnya aku sedang berjuang. Aku tidak ingin sekedar mengetik data untuk skripsi. Aku menginginkan hasil yang berkualitas. Aku paham 'menjadi penulis', untuk itu aku tidak ingin asal selesai. Dan sujud demi sujud menguatkan langkahku. Lalu di detik terakhir segala kepasrahanku, di saat sidangku dimulai aku benar-benar berjuang mempertahankan, mempertanggungjawabkan isi skripsiku. Di tengah debatku dengan para penguji, anganku sudah melayang, aku terancam tidak lulus. Aku pasrah. Jika memang harus seperti itu. Biarlah.

Gerbang Berikutnya
Bukan lagi hal yang luar biasa. Toga di kepalaku, untuk memakainya ada banyak deraian air mata. Namun, sekarang, setelah formalitas acara wisuda ini berakhir, ada lebih banyak lagi perjuangan yang harus kutapaki. Dan jika bukan karena pengalaman lalu, aku hanya perempuan cengeng pengisap jari, menyesali ini itu.

Sakit
Benarlah adanya, jika kau belum pernah merasa sakit, kau tak akan pernah mensyukuri hadirnya sehat. Aku benar-benar tumbang saat itu. Dua bulan, segala aktivitas hanya di rumah, rumah sakit, ruang dokter, laboratorium.

I My Self
Pencarian jati diri adalah hal yang runit bagiku. Pasalnya aku hanya berjalan di lingkaran itu-itu saja. Aku banyak menyia-nyiakan waktu saat itu. Bahkan merasa depresi karena pertanyaan kian menggelayut di kepalaku, menumpuk, namun tak menemukan jawaban apa-apa. Lalu, pada akhirnya sedikit-sedikit waktu membunuh tanyaku dengan kesibukan, dengan mimpi-mimpi.

10 Maret 2014
ditengah ramainya atribut kampanye
seorang wanita mencoba menemukan arti dari tiap hembusan nafasnya

Apa yang kau harapkan saat 'berulang tahun'?
atau
Apa yang kau harapkan saat usiamu dua puluh tiga tahun?

Kau tahu, Pasukan Bintang?
Menjadi wanita dengan usia berkepala dua ---begitu 'berat'---
Tahu maksudku?
Beban menjadi seorang yang 'dewasa' dengan segala tetek bengeknya.
Bijak, pandai bersosialisasi, nyambung dengan 'obrolan' orang-orang dewasa, bla bla bla
Itu kaca mataku, saat melihat label 'dewasa'

Padahal, Pasukan Bintang.
Aku masih ingin bermain hujan-hujanan tanpa khawatir dimarahi sakit atau kotor.
Aku lebih nyaman bercanda dengan anak kecil
Aku suka mengikuti kata hatiku dibanding harus mempertimbangkan omongan orang

Dua puluh tiga tahun, Pasukan Bintang
Apa yang kalian lakukan saat usiamu di titik itu?
Tetap berpendar kan?
Tak ada yang berubah kan?
Cahaya kalian tetap menyinari malam, tak ada yang berkurang



Perjalanan hidupku setahun lalu, memberikan banyak arti. Kuiyakan ungkapan populer itu, bahwa pengalaman adalah guru yang paling baik. Berhenti sejenak adalah pilihan baik untuk sedikit merenungi langakah kita kemarin, juga untuk mulai memikirkan langkah kita esok.

Pasukan Bintang, usia manusia tidaklah sepanjang pendar cahayamu yang telah ribuan tahun merajai malam.
Suatu saat, aku akan pergi dari galaksi ini. Untuk kemudian 'hidup' di tempat 'lain'.
Terima kasih, telah menjadikanku pemimpin untuk kalian para pasukan bintang
Terima kasih, atas keramaianmu menemani sepiku
Terima kasih, menjadi pendengar baik

Rabb, aku sekali lagi
Tak pernah merasa asing meski diasingkan
Tak pernah merasa kurang meski pas-pasan

Rabb, dengan-Mu
Hembusan nafas ini menjadi lebih berarti

Segala lika-liku hidup
Mendaki, menurun, duri, bunga
Semua ada untuk beribu alasan

Rabb, satu lagi pelajaran yang masih sempat kucerna sebelum tanah 'melumatku'
Bahwa Engkau lebih dekat dari urat leher

Segala puji bagi-Mu, Tuhan Semesta Alam
Dua puluh tiga tahun usiaku kini


Rabu, 25 Desember 2013

HOME ALONE 4

Nggak tau mau beri judul apa. Karena sekarang penghujung Desember, yang artinya tanggal di kalender kebanyakan warna merah. Dan itu berarti memberikan kesempatan bagi channel-channel tv, untuk menyajikan hiburan ‘menggigit'. Dan selalu, setiap moment liburan, film tak ketinggalan 'Home Alone' mulai seri 1 sampe 3, sudah hafal jalan ceritanya *saking seringnya nonton berulang kali.

So, ada apa dengan 'Home Alone 4'?

Sebenarnya, -setahuku- yang ada tuh cuma sampai 'Home Alone 3', tapi dasar karena di penghunjung tahun ini, saya sedang 'berdiam diri' di rumah. Tertinggal kesibukan luar, kuberi judullah postingan ini dengan 'Home Alone 4'. Nggak alone-alone banget sih, soalnya orang-orang di rumah juga pada nggak aktif-aktif banget ke sekolah, maklum moment rapotan

Back to my story

And back to past

28 Februari 2011
Ada apa dengan ginjal? Membuatku pulang-pergi WC
-jurnal merah maroon-

21 Maret 2011
... Ry, lagi sakit perut+pinggang+belakangku. Dan memang belakangan ini tubuh bagian kananku teras ngilu. Takutka`, Ry. Kalo pergi meka ;( bagaimana mi?
-jurnal merah maroon-

3 Desember 2013
16.30
Sepulang mengajar, tiba-tiba perut sakit. Beberapa kali berhenti di jalan untuk menahan nyeri. Sambil menghapus keringat yang perlahan membasahi kening, kugenggam perutku erat. Semoga tak terjadi apa-apa
17.00
Aku terbaring, masih dengan pakaian mengajarku, kaos kaki yang lembap karena percikan air hujan, juga ranselku yang sama lembapnya. Ah, biarlah menetes. Satu-satu pelupuk mataku membanjiri pipi. Jebol pertahananku. Aku ternyata tidak sekuat dugaanku
18.30
ISK, meski hanya kategori sedang. Itu sudah mematahkan hidupku. Mudah sekali merobohkan pertahananku.
20.00
"Aku sudah lama menduganya, Rabb. Mungkin akan lebih parah jika dia adalah dokter spesialis. Apakah aku akan berhenti, mati, karena ini. Atau masih kau izinkan aku untuk melanjutkan perjalananku dengan cinta-Mu"
-jurnal merah maroon-

13 Desember 2013
02.00
Mataku belum bisa terpejam. Sekujur tubuhku merasakan sakit luar biasa. Jika, 'musuh' menyerang kepala dan belakangku, terkapar sudah diriku. Air wudhu + tahajjud. Kuminta pada-Nya menemaniku dalam ujian ini. Jika memang harus berhenti, semoga menjadi pemberhentian terbaik. Jika punya kesempatan melanjutkan, aku ingin menjadi hamba yang lebih dicintai-Nya
04.00
Aku lelah. Mata tak terpejam juga. Meski tubuh lunglai tak berdaya, masih harus memaksakan diri keluar masuk WC
-jurnal merah maroon-

25 Desember 2013
Aku bosan ditanya hal yang sama. Aku tidak bisa menjanjikan jawaban lebih. Aku [akan selalu] baik-baik saja.
-jurnal merah maroon-

26 Desember 2013
Hingga hari ini, aku masih 'terkurung' di ruangan krem berukuran 3x2 meter. Bertemankan toilet. Ah, kupanggil saja diriku dengan Mrs. Toilet.
-jurnal merah maroon-


Ahad lalu (15 Desember 2013), Allah SWT menuntunku. Mungkin memberi tahu jalan menyelesaikan semua ini. Saya sudah lama mengetahui sebuah program keren One Day One Juz (yang lebih dikenal dengan ODOJ). Namun, baru berkesempatan bergabung dengan para 'penikmat' Qur`an tersebut. 

Daan, di hari ini, saat giliranku membaca Juz 29 (hanya terjemahannya, sedang berhalangan, red.) aku merasa 'tertampar'. Memoriku memutar rentetan kisah lalu...

"Maka bersabarlah engkau (Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau seperti (Yunus) orang yang berada dalam (perut) ikan ketika dia berdoa dengan hati sedih." QS Al Qalam : 48

Tercengang dengan ayat ini. Saya menghentikan bacaanku. Penglihatan mulai buram, mata berkaca-kaca. Astagfirullah hal adzim. Seberapa pantas diriku merasa ini 'ujian berat', sementara 'mereka', sang rasulullah Muhammad saw, juga nabiyullah Yunus a.s.

Ah, siapa pula aku, yang kusebut Perindu Surga Firdaus?

Tidak sampai pada Muhammad saw dan Yunus a.s, semua kisah nabi memanggil untuk diingat, kesabaran Ayyub a.s, keteguhan Musa a.s, ketabahan Ibrahim a.s

Ah, siapa pula aku, yang kusebut Perindu Surga Firdaus?

“La ilaha illa anta subhaanaka inni kuntu minazzholimiin”
(Tidak ada tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk  orang-orang yang zalim.)

“Fainnama`al `usri yusro. Innama`al `usri yusro”
(Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan)

Sabtu, 21 Desember 2013

Mencari 'Mutiara' yang Hilang

Dalam keadaan sumber air yang kurang bagus
Kaum Anshar  saat itu ditawarkan untuk meminta sesuatu oleh Rosulullah

Maka, apa yang mereka minta?
"Ampunan. Mintalah ampunan kepada Allah agar kami diampuni."

Subhanallah, dunia tidak menggelapkan iman mereka
Bukan dunia yang ada di benak mereka
Begitulah, orang-orang beriman
Betapa lezatnya pancaran iman mereka

Sahabat Rosul
Tidak ada di benak mereka
Hanya berniat membaca 1 juz dalam shalatnya
Namun, keimanan itu yang mengantarkan mereka pada kelezatan ibadah tertinggi
Mereka tidak merasakan lelah
Membaca 1 Al Qur`an (30 juz) dalam shalatnya
Lantas dirimu?

Juga,
ketika beberapa pasukan perang Rosulullah tidak mendapatkan kuda
Mereka pun pulang berlinangan air mata
Mereka kehilangan kesempatan syahid

Lalu, ada apa denganmu?
Sudah selezat apa iman yang kau rasakan
Sudah setajam apa imanmu merasakan dosa?
Dan usiamu?
Oh

--ooOoo--

Catatan sebelum tidur -jurnal merah maroon- 31 Juli 2011

Happy Feet Cartoon

Yeah, begadang sampai jam 11 malam, demi menyelesaikan film ini.

Pelajaran penting dari film ini adalah 'Menjadi Besar dalam Keterbatasan'
Banyak yang mengutuk kekurangan diri, karena merasa berbeda dengan orang banyak. Hingga lupa berkata bahwa ternyata ' Tuhan mengambil satu dari kita, namun masih menyimpan sejuta untuk kita'
Menjadi orang biasa, tidak diperhitungkan. Itu untuk orang biasa, bermental biasa, berkemampuan biasa.

Katanya, kita berlu berbeda untuk menjadi luar biasa.

--ooOoo--

Kita akan lelah jika harus mengikuti 'tradisi yang ada' sedangkan kita tidak punya apa yang orang punya. Tapi, terkadang kita lupa, apa yang kita punya belum tentu orang punya.
Orang memanfaatkan situasi dan memasukinya dengan berdesakan karena memiliki kelebihan yang sama. Hanya saja perlu 'meng-ada-kan' diri.

Dan orang-orang terbatas memanfaatkan kelemahannya untuk menjadi kekuatan,

--ooOoo--

Namun, apakah setiap keterbatasan itu menjadi hal yang mutlak?
Ataukah situasi memaksa kita untuk mengubahnya agar mampu berbaur dengan 'tradisi'?

--ooOoo--

Catatan sebelum tidur -jurnal merah maroon- 24 April 2012

Menjadi diri sendiri jauh lebih menyenangkan. Dibanding terus menerus bersembunyi, menjadi bunglon.

Senin, 11 Mei 2009

Kenapa Mesti Karena Cinta

L-O-V-E

Ada Cinta

Ayat-Ayat Cinta

Cinta Kaleng Susu

Karena Cinta

Judul-judul film tersebut hanya sederet dari ratusan film yang pernah ditayangkan di layar kaca TV Indonesia. Belum lagi jutaan buku yang membahas tentang keramatnya kata bernama ‘cinta’. Banyak orang bingung sana-sini gara-gara mikirin apa definisi cinta sebenarnya. Pada dasarnya definisi cinta tidak sesulit apa yang dipikirkan oleh orang-orang. Menurut ensiklopedi bebas B.Indonesia, cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang

Namun, definisi cinta yang diungkapkan kamus tersebut tidak begitu relevan dengan kenyataan di lapangan. Cinta adalah sihir paling ampuh, yang bisa menjadi obat atau racun bergantung bagaimana kita mampu memanagenya.

Banyak orang yang gila-gilaan mengaplikasikan cinta lewat pacaran. Mereka merasa pacaranlah tempat paling OK yang mampu menerjemahkan rasa cinta mereka terhadap pasangannya. Bukan hanya malam Minggu yang selalu dihiasi dengan ‘apel rutin’ tapi mulai Senin sampe Senin lagi itu pun nggak kenal waktu mulai dari pukul 12 sampai pukul 12 lagi. Pokoknya sangat SIAGA -Siap Antar Jaga- dan kalo mau dihitung-hitung hal ini justru amat sangat berlebihan.

Mungkin, ada yang mengelak kalo pacaran nggak gitu-gitu amat kok! Paling cuma nelpon bentar nanya kabar, udah makan belom, atau gi ngapain, en lepas-lepas rindu gitu…. Oke deh Fren, gue terima alasan lo. Tapi, siapa yang bisa ngejamin abis lo telepon en ngobrol. Apa Si Doi nggak kepikiran terus dengan lo. Nah, dari sejak lo nelpon sampe lo nelpon lagi tuh kepala, gue yakin bakal kebayang terus ama wajah lo dan menghayal-hayal tentang lo dan Si Doi dan itu bakal nyita waktu yang laaaaamaaa banget.

Cinta itu punya aturan, Bro! Dan akan sangat indah kalo lo mau ngebingkainya dengan bingkai yang indah juga. Apa lo nggak nyadar atau pura-pura nggak tahu. Ada sederetan kisah trgais yang timbul gara-gara pacaran. Mulai dari bunuh diri gara-gara nggak terima diputusin pacarnya, ada juga yang bohong minta izin mau les padahal nyatanya dia pergi dengan pacarnya dan pulangnya ditabrak mobil, ada yang hamil karena ‘digauli’ pacarnya hingga ia terpaksa aborsi. Memang nggak terlalu membekas buat cowok, tapi kalo sudah ‘koslet’ kayak gitu apalagi yang lo andalkan dari diri lo. Kevirginan itu nggak bisa dibeli, Fren! Di mana lo bakal taruh tuh muka kalo hal tersebut dah terjadi, gimana juga dengan keluarga lo. Pokoknya Naudzubillah min dzalik deh! Mungkin lo merasa hal tersebut terlalu jauh, dan mikir lo nggak bakal terjerumus hal seperti itu. Tapi siapa yang bisa tebak gimana ending cerita cinta lo?

Bener-bener buju busyet tuh CINTA ya! Kalo kita pandai memaknai cinta, maka kita bakal nemuin banyak keajaiban dan pelajaran darinya. Contohnya nih ya, SABAR. Yup, secara nggak langsung cinta mengajarkan kita untuk sabar. Orang-orang yang sedang jatuh cinta harus betul-betul sabar dengan rasa yang Allah titipkan padanmya. Dia harus sabar untuk tidak mengumbar-umbar cintanya, dia harus sabar ketika melihat orang yang dicintainya sedang tidak ada di hadapannya, dan dia harus sabar untuk mengungkapkan cinta itu pada orang yang betul-betul tepat di hari yang tepat dan dalam ikatan yang pasti bernama ‘pernikahan’. Cinta juga mengajarkan kita tentang KEBIJAKSANAAN. Dengan cinta, orang-orang akan berpikir lebih dewasa dan berusaha memberika pengertian meski selalu tersakiti.

Cinta begitu indah, bahkan lebih indah dari taman bunga edelweiss. Tapi, akan begitu buruk bahkan lebih buruk dari tumpukan cacing-cacing yang menggeliat di antara tumpukan kodok-kodok yang ingin bertelur. Dan cinta juga mampu membuat luka yang teriris oleh silet lalu dibubuhi garam dan air jeruk, begitu perih. Tapi, kurasa luka dan keburukan itulah yang membuat cinta begitu indah. Yang kuartikan cinta dalam hal ini adalah mencintai Sang Pemilik Cinta, Allah SWT.

So, do u mean that`s only my teory? Oke, let`s do it. And get ur really love.

Minggu, 25 Januari 2009

Mencari Surga Firdaus

Ya Allah ingatkan kami semua…

Ada banyak elemen yang harus kita terjemahkan di jagad raya ini. Kenikmatan yang selama ini kita alami hanya 1% dari 100% yang akan Allah berikan pada kita. Karena 99%nya menunggu kita di Syurga-Nya. Ingat dan pahamilah ada berapa banyak yang telah kita nikmati di dunia ini… Mata yang mampu melihat banyak keindahan, telinga yang bisa menyambungkan komunikasi dengan yang lain, kaki yang masih mampu menopang dengan tegap, semua itu masih sedikit. Lalu seberapa besarkah kenikmatan yang menunggu kita???

Kita sama-sama mengharap Jannah-Nya, Surga Firdaus. Tapi, apa kita pantas??? Ada jutaan orang yang punya mimpi sama seperti kita. Dan sebagian dari mereka telah mengorbankan waktu, tenaga, harta, perasaan, dan jiwa mereka. Lalu apa yang telah kita lakukan untuk mendapatkan surga-Nya??? Hanya diperintahkan untuk ikut pengajian saja sudah mengeluh dengan beribu alasan, apalagi dengan amanah lain. Lalu masih bisakah kita mengharapkan mendapat Firdaus-Nya dan bertemu dengan-Nya. Apa kita tidak malu??? Untuk itulah siapkan waktu kita untuk mendapatkan jannah-Nya korbankan apa yang masih bisa kita korbankan. Selama Allah masih memberi kita kesempatan untuk mendapatkan satu tiket-Nya kenapa tidak??? Ini kelas VVVIP, limited edition. Dan ada jutaan orang yang memperebutkannya. Siapkah kita. Hitunglah mulai dari nol, bersiap, and GO..

Hadapi hari ini dan niatkan semuanya untuk Allah. Tegakkan kalimat La Ilaha Illalah…Allahu Akbar.(Za)

We Are The Champion

Kalo kamu sekarang lagi putus asa dan merasa kamulah pemenang Looser of The Century. Berarti hidupmu perlu sedikit pernak-pernik yang bisa ngubah persepsimu itu. Hidup itu indah, Fren. Indaaah banget saking indahnya kalo kamu melihat ke bawah syurga bakal tersenyum manis menunggumu. Tapi, cobalah tengok ke atas neraka yang berapi-api sedang memanggilmu. Tau nggak, sebenarnya tiap-tiap jiwa yang dilahirkan untuk berada di atas permukaan bumi yang sangat indah adalah seorang pemenang di antara pemenang. Belajar Biologi kan??? Tau dong tentang pembuahan, nah sebelum terjadi pembuahan ada puluhan juta sel sperma yang bersaing memperebutkan satu sel telur, termasuk Anda. Aba-aba “MULAI” pun diserukan. Semuanya meluncur, bersaing, dan bertempur. Mungkin ada yang saling tendang, tonjok-tonjokan, tapi ada juga yang nggak terkena apa-apa karena tertinggal jauh dibelakang. Dan hanya satu yang akhirnya layak sebagai pemenang dan ia pun berhak memahkotai sel telur. Satu-satunya pemenang itu adalah Anda.

Sang pemenang menyatu dengan sel telur kemudian “bermetamorfosa” menjadi mahkluk mungil nan cantik di dalam sebuah tempat bernama rahim. Setelah kurang lebih sembilan bulan ia kembali berjuang dengan maut demi menatap kehidupan dunia. Walaupun hanya bayi, tapi ia adalah seorang pemenang. You are HERO!!!!

Mental juara sudah ada dalam diri kita jauh sebelum kita lahir. So, kita harus menjaga dan mengembangkannya menjadi sebuah elemen yang akan mengubah kegersangan menjadi taman yang indah. Menjadi seorang yang tegar dan sabar dalam mengahadapi kehidupan harus mulai terbentuk dari sekarang. Mungkin agak berat, tapi cobalah. Adapun hasilnya mental juara inilah yang akan mewarnai setiap jejak langkah kita. Kamu mau jadi pemenang kan? Bukan hanya seonggok daging yang berjalan tanpa guna? Dan seharusnya kamu juga mau jadi yang terbaik? I`m very sure, kalo kamu mau tampil jadi pemeran utama dalam panggung dan pentas kehidupan ini. Bukan hanya sekedar jadi figuran.

Sekarang bersiaplah menjadi seorang pemenang yang tak mengenal putus asa.